Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2008

Istri? Bukan!


Siapa yang ada di foto ini? Yap, Naseem dan Saleem. Pertanyaannya adalah: mereka suami istri atau adik kakak?

Buat yang belum mengenal DEBU, memang agak membingungkan. Tetapi untuk yang sudah mengenal mereka, tentu tak akan asing dengan mereka. Kenyataannya lebih banyak yang menyangka sis Naseem adalah istri bro Saleem ketimbang menyadari bahwa mereka sebenarnya adik kakak. Jujur, awal aku mengenal mereka pun berpikiran sama: mereka suami istri.. Hehehehe!!! Oh tidak!

Maaf ya sis Naseem... Maaf ya bro Saleem...

Seperti komen di Multiply bro Saleem pada foto di atas, bertanya : siapakah wanita cantik di sebelah kang Saleem? ^_^ Karena hampir di setiap penampilan panggung, mereka hampir selalu bersebelahan. Kompak, maksudnya.. ^_^

Foto diambil dari sini

Selasa, 10 Juni 2008

Untuk yang Belum Tahu

Ada yang ketinggalan...

Simak saja berikut ini:

Pertanyaan ini banyak dilontarkan pada kami. Mereka bilang, grup musik sebesar ini, koq namanya "DEBU"? Bagi kami, itu tidak aneh. Secara maknawi, nama itu sudah menjadi identitas kelompok kami sejak di New Mexico sana. Saat itu, Syekh Fattaah memberi nama kelompok ini, Dust on the Road, atau Debu di Jalanan. Personilnya, tentu saja tidak seperti sekarang. Saat itu, sebagian dari kami masih kanak-kanak. Jadi, bisa dibilang bahwa para pemain Dust on the Road atau Dust saat itu ya para orang tua kami, yakni generasi pertama kafilah ini. Bahkan, Syekh Fattaah sering kali menjadi vokalisnya.

Setelah di Indonesia, kami menyelaraskan nama kelompok ini sesuai dengan ejaan dan bahasa Indonesia, yakni DEBU. Nama yang indah. Sederhana dan mudah diingat. Formasinya pun berubah sama sekali. Ada regenerasi di sini. Antara lain, Syekh Fattaah yang merupakan guru rohani kami, tidak lagi memimpin vokal. Sebaliknya, ia lebih suka berkhalwat saja di ruangannya. Dengan sendirinya, dinamika DEBU sekarang berada di generasi kedua meski untuk instrumen tertentu masih dipegang oleh beberapa orang senior.

Secara formasi, DEBU memang telah berbeda dengan DUST, pun dalam hal komposisi. Sekarang ini, Syekh Fattaah lebih sering membuat syair-syairnya dalam bahasa Indonesia. Namun, satu hal yang masih menjadi ciri dan prinsip bagi DEBU adalah, bahwa musik dan nyanyian yang dilakukan hanyalah media untuk dakwah dan syiar ilmu-ilmu Islam, yakni ilmu lahir dan batin. Syekh Fattaah selalu menekankan pada kami, bahwa bermusik dan bernyanyi bukanlah segala-galanya dan bukan pula tujuan. Jika suatu saat aktivitas ini membuat kami berpaling dari kecintaan terhadap Allah swt, maka Syekh Fattaah akan menghentikan aktivitas ini dan membubarkannya.

Nyomot beritanya dari mana? yuk, kemari...

At The First Sight...

Jujur, pertama kali mendengar nama DEBU, aku mengerenyitkan dahi. Heh, siapa lagi tuh? Dari mana? Jenis musiknya apa? Udah ilfil duluan deh. (Tentang ini aku pernah cerita pada brother Ibrahim, tau deh dia inget apa gak...) Begitu mendapatkan selembar fotokopian (catet!) mengenai apa dan siapa DEBU, aku tambah miris... Aaaarrgghhh... Sufisme *gubraks* Oh no, aku gak mungkin bisa menerimanya (pendengaranku, maksudnya). Lagu2 aneh dan syair2 yang ajaib....

Pertama kali melihat penampilan mereka di televisi danmenyanyikan lagu "Cinta Saja", aku tambah masygul. Ya Allah, syairnya bener2 bikin aku pusing! Gak ngertiiiii.... Tetapi di tengah kepanikan itu, aku menatap satu persatu wajah personilnya. Heh? Bule dan negro? Gak salah? Berbahasa Indonesia? Yang bener ajeh? Tapi itu nyata, sodara2!

Penasaran? Jelas! Aku segera hunting kasetnya. Dapat! Setelah rebutan dengan beberapa pengunjung yang juga sedang mencari.. Hehehe.. Siapa cepat dia akan dapat, toch? Aku memutar kaset "Mabuk Cinta" berkali-kali dengan harapan dapat menyelami makna syair2 khas Syeikh Fattaah itu. Bukan lagu yang aku dengarkan, tapi membaca syair2nya berulang kali.
Untuk beberapa kali sih, nihil. Putus asa rasanya.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu,
Jadi segala sesuatu,
Yang kumelihat di situ.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Kayak sinar matahari,
Atas permukaan hati,
Cinta itu meliputi,
Hatiku sama sekali.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Dalam hati tetap malam,
Kacau-balau tanpa salam,
Hati muram suram guram,
Gelap buta penuh waham.

Terbit sinar surya terang,
Maka tudung waham hilang,
Tidak terlihat sekarang,
Selain cahaya merelang.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.


Aku mencoba searching di internet. Saat itu, hatiku berkata, "Rasanya aku mulai jatuh cinta...."